Photoset

Balada Halo Selamat si Bocah

kadang kita suka lupa

ucapan yang paling sederhana

bisa membuat hati orang lain berbunga-bunga

apalagi buat orang yang di cinta

Halo…selamat siang,

selamat sore,

dan selamat malam semua

Photo
Sebagai seorang penggemar film pasti kita pernah berfikir (atau Cuma saya doang?), bagaimana kalau sebuah film yang sudah kita tonton dibuat oleh sutradara lain yang memilki gaya yang berbeda atau bahkan lebih cocok untuk film tersebut. Bukannya saya berfikir kalau sutradara awalnya gagal mengeksekusi film  tersebut, tetapi saya tidak pernah bisa berhenti berkata “what if…” untuk 5 film dibawah ini. 
 Tim Burton x Adams Family
Gothic, hitam, jenaka dan pohon kering, tidak ada yang lebih cocok untuk menggarap film favorit keluarga tahun 90an ini selain sang sutra- dara eksentrik, Tim Burton. Gaya visual Burton yang sangat “Adams Family” (atau justru kebalikanya) pasti akan membawa keluarga “abnormal” ini ke tingkat selanjutnya. Saya sudah membayangkan ba- gaimana serunya menyaksikan kata-kata sarkastik Wednesday dan keseksian Anjelica Houston (atau mungkin jadi helena bohem carter?) dalam dunia visual gothic penuh warna super keren ala Tim Burton. Mari berdoa dan berharap suatu hari impian ini akan terwujud.

 Miroor Mask  x Terry Giliam
 Sebuah kisah surealis hasil karya penulis Neil Gaiman ini pasti akan semakin absurd dan indah bila digawangi oleh sutradara yang tidak kalah sureal nya, Terry Gilliam. Dengan portofolio seperti the advanture of baron munchausen, 12 monkey dan yang terakhir the imaginarium of doctor parnasus, saya sangat yakin bahwa miror mask akan menjadi sebuah karya yang lebih berseni tinggi dengan visual yang sangat memukau di tangan sang Salvador Dali dunia sinema ini.

 Watchmen x Christopher Nolan
Zack Snyder sudah berhasil menjadikan film drama superhero ini menjadi sebuah suguhan trailer yang sangat stylist dan keren, tetapi Christopher Nolan pasti akan membuat lubang intrik dalam film ini menjadi semakin dalam dan gelap. Siapa yang bisa menyangkal kalau Batman telah menjadi film superhero yang berbeda dibawah kendali sineas satu ini, dan saya yakin Watchmen pun akan demikian. Dengan muatan kisah menda- lam yang dipenuhi dengan intrik dan suasana thriller nya yang kental, watchmen pasti akan menjadi sebuah maha karya superhero thriller baru di tangan seorang Chris Nolan. 
Tusuk Jalangkung x Joko Anwar
 Andai saat itu Joko Anwar sudah menjadi seorang film makker dan berkesempatan menggarap tusuk jalangkung, pasti film tersebut sudah menjadi sebuah cult saat ini. Bukannya saya tidak menyukai gaya cepat Dimas Djayadiningrat dalam film ini, tetapi saya sangat penasaran bagaimana kalau seorang Joko Anwar dengan style nya yang dinamis dan gelap mengubah arah salah satu film horor nasional favorit saya ini. 
Immortal x Zack Snyder
Dengan produser, gaya, tone, dan latar cerita yang sangat 300 banget, saya tidak pernah mengerti kenapa bukan Zack Snyder saja yang membuat film ini. Bagaimanapun film ini pasti akan menjadi lebih keren di tangan seorang sutradara yang jelas-jelas sudah berhasil membuat film dengan komposisi persis dengan film ini menjadi sebuah film action cult yang sangat ikonik untuk para penggemar film.rdy

Kalo ada yg merasa kok bahasa gw jadi sopan banget di tulisan ini, itu dikarenakan ini adalah artikel lama yang ga jadi di publish dan rasa malas untuk mengubahnya begitu besar, sekian dan makasih.
 

Sebagai seorang penggemar film pasti kita pernah berfikir (atau Cuma saya doang?), bagaimana kalau sebuah film yang sudah kita tonton dibuat oleh sutradara lain yang memilki gaya yang berbeda atau bahkan lebih cocok untuk film tersebut. Bukannya saya berfikir kalau sutradara awalnya gagal mengeksekusi film  tersebut, tetapi saya tidak pernah bisa berhenti berkata “what if…” untuk 5 film dibawah ini.

 Tim Burton x Adams Family

Gothic, hitam, jenaka dan pohon kering, tidak ada yang lebih cocok untuk menggarap film favorit keluarga tahun 90an ini selain sang sutra- dara eksentrik, Tim Burton. Gaya visual Burton yang sangat “Adams Family” (atau justru kebalikanya) pasti akan membawa keluarga “abnormal” ini ke tingkat selanjutnya. Saya sudah membayangkan ba- gaimana serunya menyaksikan kata-kata sarkastik Wednesday dan keseksian Anjelica Houston (atau mungkin jadi helena bohem carter?) dalam dunia visual gothic penuh warna super keren ala Tim Burton. Mari berdoa dan berharap suatu hari impian ini akan terwujud.

 Miroor Mask  x Terry Giliam

 Sebuah kisah surealis hasil karya penulis Neil Gaiman ini pasti akan semakin absurd dan indah bila digawangi oleh sutradara yang tidak kalah sureal nya, Terry Gilliam. Dengan portofolio seperti the advanture of baron munchausen, 12 monkey dan yang terakhir the imaginarium of doctor parnasus, saya sangat yakin bahwa miror mask akan menjadi sebuah karya yang lebih berseni tinggi dengan visual yang sangat memukau di tangan sang Salvador Dali dunia sinema ini.

 Watchmen x Christopher Nolan

Zack Snyder sudah berhasil menjadikan film drama superhero ini menjadi sebuah suguhan trailer yang sangat stylist dan keren, tetapi Christopher Nolan pasti akan membuat lubang intrik dalam film ini menjadi semakin dalam dan gelap. Siapa yang bisa menyangkal kalau Batman telah menjadi film superhero yang berbeda dibawah kendali sineas satu ini, dan saya yakin Watchmen pun akan demikian. Dengan muatan kisah menda- lam yang dipenuhi dengan intrik dan suasana thriller nya yang kental, watchmen pasti akan menjadi sebuah maha karya superhero thriller baru di tangan seorang Chris Nolan.

Tusuk Jalangkung x Joko Anwar

 Andai saat itu Joko Anwar sudah menjadi seorang film makker dan berkesempatan menggarap tusuk jalangkung, pasti film tersebut sudah menjadi sebuah cult saat ini. Bukannya saya tidak menyukai gaya cepat Dimas Djayadiningrat dalam film ini, tetapi saya sangat penasaran bagaimana kalau seorang Joko Anwar dengan style nya yang dinamis dan gelap mengubah arah salah satu film horor nasional favorit saya ini. 

Immortal x Zack Snyder

Dengan produser, gaya, tone, dan latar cerita yang sangat 300 banget, saya tidak pernah mengerti kenapa bukan Zack Snyder saja yang membuat film ini. Bagaimanapun film ini pasti akan menjadi lebih keren di tangan seorang sutradara yang jelas-jelas sudah berhasil membuat film dengan komposisi persis dengan film ini menjadi sebuah film action cult yang sangat ikonik untuk para penggemar film.rdy

Kalo ada yg merasa kok bahasa gw jadi sopan banget di tulisan ini, itu dikarenakan ini adalah artikel lama yang ga jadi di publish dan rasa malas untuk mengubahnya begitu besar, sekian dan makasih.

 

Photoset

Setelah kemaren hati gw di khianati oleh Java Heat yang sudah memberikan harapan palsu (gw mengerti perasaan ayu ting ting sekarang), kali ini hati gw kembali terhibur setelah menyaksikan film karya Andibachtiar Yusuf (The Conductor, Romeo Juliet) yang judulnya “Hari ini pasti menang”. 

Perkenalan pertama gw dengan film ini sebetulnya terjadi waktu di situs komik Indonesia favorit gw www.makko.co menayangkan sebuah komik yang berjudul GO8 yang bisa dibilang sebuah prekuel dari film ini. Setelah dinanti dan dinanti akhirnya keluarlah film ini yang jujur kualitasnya sangat sungguh benar-benar jauh di atas ekspektasi gw. Film ini sungguh gawat….gawat kerennya.

Kalau biasanya film yang bertema sepak bola atau olahraga itu bercerita soal perjuangan sebuah tim dalam meraih kemenangan, jatuh bangun, ribut antar pemain vs pemain vs pelatih bla bla bla, Hari ini pasti menang dengan cerdas mengambil pendekatan berbeda. Film ini mengambil “sepak bola” itu sendiri sebagai tema besarnya. Sebuah olahraga yang lika likunya memiliki efek domino yang besar untuk sebuah negara, dalam hal ini Indonesia. Sebuah olahraga yang dari dulu sampe sekarang selalu jadi PHP A.K.A Pemberi Harapan Palsu bagi masyarakat, tetapi tetap dicintai oleh jutaan penduduk kita.

Ceritanya bersetting di sebuah alternate universe, dimana sepak bola Indonesia sudah sangat maju (udah bisa ikut piala dunia malah) dan menjadi sebuah industri yang super besar. Tetapi sayang industri besar itu dicampur tangani oleh para mafia judi yang melibatkan banyak pihak, baik pemain, pelatih, bahkan sampai pemerintah. Gabriel Omar Baskoro (Zendhy Zain), seorang pemain timnas super jago maha terkenal yang juga top skorer piala dunia 2014 dan diincar 5 klub Eropa termasuk Machester United, di plot jadi karakter utama di film ini. Tapi jangan salah, Gabriel atau yang lebih dikenal sebagai GO8 adalah seorang anti hero (pokoknya jauh banget sama karakter super bersahaja ala dude herlino & teuku wisnu di semua sinetron dan infotaiment) yang ga segan-segan ikut terlibat dalam pengaturan skor pertandingan bersama dengan pelatihnya, coach bram (Ray Sahetapi), demi bayaran yang berlimpah. Semua berjalan lancar, sampai Andien (Tika Putri), wartawan cantik (—> pendapat pribadi), yang juga teman masa kecilnya Gabriel mencoba menginvestigasi dan membongkar praktek perjudian dan pengaturan skor dalam sepak bola ini. Selain lika liku “dunia kriminal” dalam sepak bola, film ini juga menggambarkan hubungan Gabriel dengan sang ayah (Mathias Muchus), yang bikin dia mulai mempertanyakan keputusan-keputusan yang diambil dalam hidupnya.

Buat gw, hal yang paling “gila” dari film ini adalah bagaimana Andibachtiar Yusuf memperhatikan setiap detail kecil untuk membangun dunia fantasinya ini. Hal-hal remeh temeh seperti membuat mata uang rupiah pecahan Rp.200.000 bergambar Gus Dur, membuat sistem seperti ERP di jalan Sudirman, skandal Syahrini dan Ryan Giggs, sentilan-sentilan kecil soal kondisi sepak bola saat ini, sampai “pertunjukkan” Presiden Indonesia di tahun 2018 (yang ini sungguh ter…laaa….luuu), membuat dunia khayalan ini terasa jauh tetapi tetap dekat. Biarpun tanpa special effect super canggih yang bisa ngerubah Jakarta menjadi sophisticated ala hollywood, gw sebagai penonton tetap percaya, bahwa dunia yang gw liat di film adalah dunia yang berbeda dari dunia yang gw tinggali saat ini dan setiap film ini menampilkan kemajuan-kemajuan yang sudah terjadi di dunianya, gw cuma bisa berharap bahwa suatu hari sepak bola negara gw dan kota tempat gw tinggal ini bisa menjadi seperti apa yang di tampilkan disini.

Hari ini pasti menang buat gw sukses menempatkan dirinya di “dunia lain” dibandingkan sama film-film tentang sepak bola Indonesia lainnya. Tema yang “besar”, dialog yang walaupun berisi kritikan tetapi tidak terkesan menggurui. script yang cerdas, editing yang asik yang didukung juga oleh sinematografi, akting dan musik yang mumpuni, membuat film ini menjadi salah satu film Indonesia yang “langka” sehingga sukses masuk kedalam salah satu “film Indonesia terbaik yang pernah gw tonton” versi Randy Indrayanto. Sebuah film yang mengajak kita berdoa dan berharap agar sepak bola negeri ini ga cuma bisa memberikan harapan palsu tetapi bisa benar-benar mencuri hati kita dengan prestasi dan nama besarnya, amin.

Setelah nonton film ini yang ga punya SFX wah, Iron Man IMAX 3D minggu depan dengan yakin dan pasti akan menjadi penyeimbang akan dahaga menyaksikan SFX super canggih ala hollywood, see you next week mas tony.

Photoset

Java Heat adalah sebuah film Indonesia  yang dari awal berita pembuatanya diumumkan udah membuat banyak orang berekspektasi lebih dan bangga ga ketulungan,termasuk gw. GImana ga, film ini digadang gadang sebagai sebuah film yang menggabungkan unsur hollywood dan budaya indonesia, dan 2 bintang top dunia pun dipastikan main di film ini, mickey rourke (nominator oscar di the wrestler) juga si Emmet Cullen di twilitght saga, kellan lutz (percaya atau ga Yosie Lucky udah memprediksi soal ini sejak dulu lewat lagu “duhhhh emmet kenapa hidup ini sengsara emmet…..”).

Rob dan Connor Allyn, pasangan produser dan sutradara yang pernah membesut trilogi merah putih juga tidak lupa menyertakan aktor dan aktris papan atas Indonesia seperti Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Tyo Pakusadewo dan veteran trilogi merah putih teuku Rifnu Wikana (yang nasibnya di film ini ga beda jauh sama di darah garuda, sama-sama ga pernah ngomong, kesian), dan sederet bintang lainnya.

Seperti layaknya Merah Putih, Rob dan Connor Allyn berhasil memberikan hal yang sama   buat gw melalui Java Heat ini, ekspektasi tinggi dengan hasil yang mengecewakan. Yes dugaan gw dari awal ga salah, Connor Allyn bukan sutradara dan penulis yg sehebat itu walaupun dia didukung materi pemain sekuat ini yang pada akhirnya ngebuat Java Heat cuma jadi sekedar film yang gede di gembar gembor tapi sangat minim di kualitas.

Film ini bercerita soal Jake Travers (Kellan Lutz), seorang yang ngaku sebagai asisten dosen dari Amerika yang kemudian dicurigai oleh seorang polisi muslim bernama Hashim (Ario Bayu) ikut terlibat dalam pengeboman di keraton yang menewaskan putri sultan bernama Sultana (Atiqah Hasiholan). Hashim yang sejak awal curiga pada Jake akhirnya mencoba menyelediki siapa Jake sebenernya, dan pada akhirnya mereka harus bekerjasama untuk menemukan dalang pengeboman tersebut yang ternyata hanya merupakan kedok untuk menutupi sebuah konspirasi yang lebih dalam.

Sebetulnya kalo gw liat premis ceritanya, film ini bisa menjadi sebuah film action thriller yang sangat mumpuni dengan twist ending yang mencengangkan, tapi sayang oh sungguh sayang Connor Allyn yang juga bertindak sebagai penulis naskah film ini, gagal melakukanya. Film ini dipenuhi adegan dan dialog yang super chessy dan chemistri yang minim dari para aktor dan aktrisnya. Bintang sekelas mickey rourke pun keliatan jadi kayak bule-bule jebolan acara “asing star” di TV yang tiba-tiba ketiban duren diajakin main film. Bukan salah orangnya sih kayaknya, tapi emang scriptnya ga membiarkan karakter-karakter yang ada di film ini berkembang lebih jauh. Penggunaan bahasa yang campur aduk suka-suka juga bikin gw sebel pas nonton. Contohnya ada di suatu adegan saat hashim masuk ke mobil atasanya, seorang jendral yang hobi tampil di layar kaca dan eksis di twitter (ini serius,bukan becandaan) diajak ngobrol pake bahasa Indonesia, dan tiba-tiba si jendral motong pembicaraan dan ngomong “English Please”, lah sok inggris amat ini si pak jendral. Sutradara film ini juga tampaknya ingin menunjukkan adanya benturan budaya antara jake dan hasim, tetapi lagi-lagi dengan cara yang super maksa. Mari kita ambil contoh di satu adegan dimana Jake dibawa Hashim dengan mobil polisi. Seorang letnan polisi setaat hasim nyetir, ngebut, sambil makan….nasi goreng (sopir angkot aja ga gitu-gitu amat) sambil jelasin kalo nasi goreng itu bebas gula yang bikin jake terheran-heran (………………). Hal-hal seperti ini banyak bertebaran di sepanjang film yang bukannya membuat penonton terkoneksi dengan para tokoh dan jalan ceritanya, malah bikin kita berkerut dahi karena ngeliat adegan-adegan yang tidak pada tempatnya ini.

DIbalik kekurangan disana sini, sinematografi di film ini patut sekali diberikan pujian. Kota Yogyakarta yang jadi setting tempat ini bisa ditangkap dengan sangat indah dengan lighting dan tone warna yang OK. Candi Borobudur yang jadi tempat adegan pamungkas di film ini pun bisa diambil keindahannya secara maksimal dan bikin gw jadi pengen ke Borobudur lagi.

Pada akhirnya Java Heat lagi-lagi berhasil mematahkan harapan gw yang terlanjur berekspektasi lebih pada film ini. Walaupun usaha Rob dan Connor Allyn untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa (yang lagi-lagi dilakukan melalui dialog dan adegan super chessy,menurut gw ya) patut di apresiasi, tapi sebagai penonton film pada umumnya gw ga bisa memberikan apresiasi lebih untuk kualitas filmnya, sungguh sangat disayangkan.

Makna positif lain yang bisa gw dapatkan dari film ini adalah gw semakin menyadari bahwa sutradara-sutradara kita pun ga kalah bagus dari sutradara luar dan mudah-mudahan suatu hari mereka-mereka ini akan bekerjasama dengan bintang besar hollywood lainya, amin.

Photoset

Sekelumit foto teaser untuk clothing line yang mudah-mudahan akan segera launching. Sebuah playground baru buat gw dimana gw bisa branding, foto, gambar plus belajar sedikit-dikit dunia bisnis clothing .Sebuah wahana untuk belajar membuat ilustrasi yang ga hanya gw yang suka, tapi juga bisa dinikmati orang lain. 

untuk info update design2 lainya silahkan like dan main2 ke www.facebook.com/jiroapparel atau follow twitternya di @mister_jiro 

berhubung websitenya www.misterjiro.com masih underconstraction maka gw menghimbau jgn dikunjungi dulu (sape juga yg mau ngunjungin?)

Photoset

SHAY  photoshoot in collbaration with Kaffah by Siti Juwariyah

SHAY : https://www.facebook.com/shayclothing?ref=ts&fref=ts or twitter @SHAY_ID

Kaffah : http://saturday-market.blogspot.com/  or http://sitisstreet.blogspot.com/

Photo
Udah lama banget sebenernya gw mau bikin tulisan tentang film yang sangat gw sukai ini. “Lovely Man” film karya Teddy Soeriaatmadja (badai pasti berlalu, ruang, rumah maida) ini merupakan salah satu film Indonesia terbaik (menurut gw loh ini) tahun 2012 dan juga salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa.
Sebelum kita masuk ke filmnya, perkenankanlah gw bercerita sedikit tentang pertemuan pertama gw dan film ini.Awalnya gw liat film ini melalui posternya yang sempet beredar di internet sebelum filmnya sendiri rilis. “Asli lay out sama font nya jelek banget” begitulah kata hati seorang Randy Indrayanto, tapi ini karyannya Teddy Soeriaatmadja, dan gw udah nonton “Ruang” dan cukup menikmati filmnya. Ketertarikan gw akan film ini mencapai klimaks saat donny damara menang di 6th Asian Film Awards, dan gw pun menetapkan hati harus nonton film ini.
Film ini diperkenalkan dan dijalankan oleh 2 orang tokoh utamanya Cahaya (Raihanun Soeriaatmadja), seorang perempuan berjilbab dan taat pada agama yang pergi ke Jakarta berbekal sebuah alamat untuk mencari bapak kandungnya. Walaupun sudah dilarang oleh ibunya, perempuan yang polos tapi cukup keras kepala (perpaduanya lucu juga nih ya, selucu raihanun di film ini) tetap nekat untuk bertemu bapak kandungnya. Ke keras kepalaan Cahaya pun akhirnya membawa kita berkenalan dengan sang “bapak” yang bernama Saipul A.K.A Ipuy (Donny Damara) yang ternyata sudah “berubah” jauh dari sosok yang diingat Cahaya saat berumur 4 tahun  (pantes ga dibolehin ketemu sama ibunya), dan disini kita mulai diajak keliling Jakarta sambil mengikuti hubungan naik turunnya pasangan bapak dan anak ini.
"Indah", "Sederhana", dan "Asik", kayaknya ke 3 kata itu bisa mewakili bagaimana rasanya mengikuti perjalanan 2 orang ini. Hubungan rumit orang tua-anak ternyata jadi begitu mudah dan asik diikuti di tangan seorang Teddy Soeriaatmadja . Biarpun film ini penuh dengan obrolan, tapi ga ada sedetikpun gw merasa bosan untuk diajak “jalan-jalan” oleh mereka ber 2. Chemistry dan akting yang mumpuni dan juga cerita yang berjalan “apa adanya” tanpa drama berlebihan,umbar air mata sana sini, atau berantem/ngambek teriak-teriakan ga penting, membuat film ini sangat lezat untuk ditonton. Tanpa disadari gw pun jadi merasa dekat dengan Cahaya dan Ipuy dan denghan ikhlasnya menyaksikan bagaimana mereka menyelesaikan jurang pemisah yang ada selama bertahun-tahun hingga pada akhirnya saling memahami dan melengkapi satu sama lain. Biarpun pertemuan Cahaya dan Ipuy hanya berlangsung semalam, tapi kesan yang gw dapat setelah nonton film ini membekas jauh lebih lama dari itu.
Kedekatan lain yang gw rasakan adalah dari segi sinematography nya. Tekhnik pengambilan gambar yang handheld dan sangat kental kesan Indienya, membuat gw yang senang (biarpun ga jago2 juga sampe sekarang) membuat film kecil-kecilan ini merasa mendapat sebuah pencerahan baru. Ga ada aerial shot super mahal, atau pemandangan luar biasa indah yang diambil secara wide, ga ada juga spesial effect super niat di film ini, yang ada hanya kesederhanaan gambar yang dengan tetap indah memotret perjalanan ke 2 tokohnya. Ternyata segala tetek bengek peralatan dan angle-angle canggih bukan segalanya untuk membuat sebuah film yang bagus.
Pada akhirnya gw pulang dengan perasaan sangat puas dan keinginan untuk membeli dvd originalnya nanti (sekarang udah keluar tapi tetep ga dibeli, yah namanya juga anak muda). Lovely Man sudah sangat sukses mencuri hati gw dan kayaknya ga akan pernah dikembalikan ataupun gw minta balik kembali. Bravo..Bravo…BANZAI….
Tulisan italic kali ini akan diisi dengan luapan perasaan senang gw, karena di tahun 2012 banyak banget film indonesia yang sangat bagus dan mudah-mudahan tahun 2013 pun akan seperti itu lagi, adios amigos.

Udah lama banget sebenernya gw mau bikin tulisan tentang film yang sangat gw sukai ini. “Lovely Man” film karya Teddy Soeriaatmadja (badai pasti berlalu, ruang, rumah maida) ini merupakan salah satu film Indonesia terbaik (menurut gw loh ini) tahun 2012 dan juga salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa.

Sebelum kita masuk ke filmnya, perkenankanlah gw bercerita sedikit tentang pertemuan pertama gw dan film ini.Awalnya gw liat film ini melalui posternya yang sempet beredar di internet sebelum filmnya sendiri rilis. “Asli lay out sama font nya jelek banget” begitulah kata hati seorang Randy Indrayanto, tapi ini karyannya Teddy Soeriaatmadja, dan gw udah nonton “Ruang” dan cukup menikmati filmnya. Ketertarikan gw akan film ini mencapai klimaks saat donny damara menang di 6th Asian Film Awards, dan gw pun menetapkan hati harus nonton film ini.

Film ini diperkenalkan dan dijalankan oleh 2 orang tokoh utamanya Cahaya (Raihanun Soeriaatmadja), seorang perempuan berjilbab dan taat pada agama yang pergi ke Jakarta berbekal sebuah alamat untuk mencari bapak kandungnya. Walaupun sudah dilarang oleh ibunya, perempuan yang polos tapi cukup keras kepala (perpaduanya lucu juga nih ya, selucu raihanun di film ini) tetap nekat untuk bertemu bapak kandungnya. Ke keras kepalaan Cahaya pun akhirnya membawa kita berkenalan dengan sang “bapak” yang bernama Saipul A.K.A Ipuy (Donny Damara) yang ternyata sudah “berubah” jauh dari sosok yang diingat Cahaya saat berumur 4 tahun  (pantes ga dibolehin ketemu sama ibunya), dan disini kita mulai diajak keliling Jakarta sambil mengikuti hubungan naik turunnya pasangan bapak dan anak ini.

"Indah", "Sederhana", dan "Asik", kayaknya ke 3 kata itu bisa mewakili bagaimana rasanya mengikuti perjalanan 2 orang ini. Hubungan rumit orang tua-anak ternyata jadi begitu mudah dan asik diikuti di tangan seorang Teddy Soeriaatmadja . Biarpun film ini penuh dengan obrolan, tapi ga ada sedetikpun gw merasa bosan untuk diajak “jalan-jalan” oleh mereka ber 2. Chemistry dan akting yang mumpuni dan juga cerita yang berjalan “apa adanya” tanpa drama berlebihan,umbar air mata sana sini, atau berantem/ngambek teriak-teriakan ga penting, membuat film ini sangat lezat untuk ditonton. Tanpa disadari gw pun jadi merasa dekat dengan Cahaya dan Ipuy dan denghan ikhlasnya menyaksikan bagaimana mereka menyelesaikan jurang pemisah yang ada selama bertahun-tahun hingga pada akhirnya saling memahami dan melengkapi satu sama lain. Biarpun pertemuan Cahaya dan Ipuy hanya berlangsung semalam, tapi kesan yang gw dapat setelah nonton film ini membekas jauh lebih lama dari itu.

Kedekatan lain yang gw rasakan adalah dari segi sinematography nya. Tekhnik pengambilan gambar yang handheld dan sangat kental kesan Indienya, membuat gw yang senang (biarpun ga jago2 juga sampe sekarang) membuat film kecil-kecilan ini merasa mendapat sebuah pencerahan baru. Ga ada aerial shot super mahal, atau pemandangan luar biasa indah yang diambil secara wide, ga ada juga spesial effect super niat di film ini, yang ada hanya kesederhanaan gambar yang dengan tetap indah memotret perjalanan ke 2 tokohnya. Ternyata segala tetek bengek peralatan dan angle-angle canggih bukan segalanya untuk membuat sebuah film yang bagus.

Pada akhirnya gw pulang dengan perasaan sangat puas dan keinginan untuk membeli dvd originalnya nanti (sekarang udah keluar tapi tetep ga dibeli, yah namanya juga anak muda). Lovely Man sudah sangat sukses mencuri hati gw dan kayaknya ga akan pernah dikembalikan ataupun gw minta balik kembali. Bravo..Bravo…BANZAI….

Tulisan italic kali ini akan diisi dengan luapan perasaan senang gw, karena di tahun 2012 banyak banget film indonesia yang sangat bagus dan mudah-mudahan tahun 2013 pun akan seperti itu lagi, adios amigos.

Photo
Poster film pertama gw dan kawan-kawan di CINE:RE film. Filmnya sendiri udah keluar dari tahun lalu,tapi baru sempet nge publish (baca : ngebikin) posternya sekarang ahahahah…. Buat yang blom pernah atau mau nonton filmnya lagi,silakan langsung meluncur kesini saja http://www.youtube.com/watch?v=tJ9dJgVkRa8

Poster film pertama gw dan kawan-kawan di CINE:RE film. Filmnya sendiri udah keluar dari tahun lalu,tapi baru sempet nge publish (baca : ngebikin) posternya sekarang ahahahah…. Buat yang blom pernah atau mau nonton filmnya lagi,silakan langsung meluncur kesini saja http://www.youtube.com/watch?v=tJ9dJgVkRa8

Photoset

Pada suatu waktu di dieng

Road trip panjang, 12 jam, menuju gunung dieng, Wonosobo. Entah berapa kota yang di lalui, tapi jadi pengalaman yang sangat membekas di hati. 

Video

2nd Short Movie “Modern Cupid”

film ke 2 gw dan teman-teman senasip sepenanggungan di cine:re film akhirny selesai juga (silakan sekalian main2 ke blog cine:re di cinerefilm.blogspot.com). Setelah bias yang lumayan nge twist dan “berat”, kali ini gw dan teman2 coba buat film yang lebih enteng dan lebih “apa adanya”. Mudah-mudahn berhasil,kalaupun ga di mohon saran dan kritiknya biar gw bisa lebih baik lagi ke depanya